Rebo Wekasan di Tanggal 13 -->

Header Menu

Iklan Mas Vaga 1

Advertisement

Rebo Wekasan di Tanggal 13

Rusdi Al Irsyad
Rabu, 20 Agustus 2025

Sejak bisa mengingat dengan jelas, ada beberapa hal yang menempel di ingatan, dari apa yang dikatakan Bapakku. Meski tak ingat dengan rinci, tapi seingatku Bapak selalu mengingatkan tentang 3 hal penting. 

Pertama, jangan menantang bahaya di tempat angker. Sebenarnya urusan ini pernah aku tanya langsung ke Bapak. Apa maksudnya. Menantang bahaya itu maksudnya gimana? Dan, definisi tempat angker itu tempat yang seperti apa? Tapi, sampai dia 'pulang' jawaban tak kunjung aku dapatkan. 


Kedua, hindari bepergian jauh pada hari Sabtu pertama di bulan Syawal. Sama seperti yang pertama tadi. Aku juga tak dapat penjelasan rigid, tentang alasan di baliknya. Tapi, rasanya Bapak pernah bilang, bahwa itu adalah hari nahas. Soal ini, sejatinya Bapakku bukan orang yang doyan mitos. Dia juga percaya bahwa hari nahas tidak ada di kalender. Tapi, dari cerita beberapa tetangga di kanan dan kiri rumah. Bapak itu punya semacam rumus, yang bisa memperkirakan hal-hal tertentu, dengan menghitung jumlah hari atau tanggal tertentu. 


Kejadiannya waktu aku belum lahir. Lagi-lagi katanya. Almarhumah Uwa, (Bude dalam Bahasa Jawa) yang tinggal di seberang rumah bercerita, sore hari selepas Asar. Bapak tiba-tiba menghampiri Mamak yang sedang srawung di bale rumah Uwa. Bapak bilang ke Mamak, untuk masak dengan jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Lantaran bakal ada tamu yang tak sedikit, nanti malam. 


Itu adalah di medio 1980-90an. Belum ada grup WhatsApp Bapack-bapack atau akun Info Samarinda yang bisa ngasih tahu, bakal ada orang datang. Almarhumah Mamak waktu itu dalam cerita Uwa, ya cuma nge-iyain walaupun sambil agak kurang percaya. 


Justru Uwa-lah yang menanggapi dan bertanya, dari mana Bapak tahu bakal ada tamu. "Ada hitungannya," kata Uwa menirukan ucapan Bapak, waktu itu. Uwa mengenang, saat itu respons Mamak juga Uwa malah tertawa. Bukan mengejek, tapi lebih kepada keheranan. 


Tak cuma keterangan nanti malam. Uwa bilang, Bapak juga menyebut jam kedatangan para tamu itu. "Jam 12 malam," kata Uwa masih menirukan perkataan Bapak. 


Hal itu lagi-lagi ditanggapi dengan tawa, masih disebabkan keheranan. Buat apa ada tamu berkunjung selarut itu. Singkat kata. Mamak menurut. Dibantu Uwa dan 3 kakak perempuanku. Mereka memasak, agak banyak. 


Mereka baru rampung ketika azan magrib berkumandang. Saat itu, kampung kami di Sebulu belum dialiri listrik PLN. Penerangan masih mengandalkan dari lampu petromax. Selepas Isya, hujan menumpahkan jutaan tetes air tak kira jumlahnya. 


Angin juga demikian kencang, hingga membuat pepohonan seperti berzikir ke kanan dan ke kiri. Kencangnya angin, bahkan hingga beberapa kali meniup api dari lampu tempel di dalam rumah. Suasana itu terus berlaku hingga malam makin larut. Bapak bilang, terpaksa mematikan lampu dan petromax, lantaran khawatir tertiup angin dan menyebabkan kebakaran. 


Meski sudah mereda, namun rintik hujan masih turun. Mamak dan 2 kakak perempuanku duduk di teras rumah. Dari seberang sana, terlihat Uwa juga melakukan hal yang sama, bersama Uwa Adam. Suaminya. 


"Tamunya sudah datang?" Uwa sedikit berteriak. Ini semata demi memastikan apakah yang dikatakan Bapak benar atau tidak. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam lebih. Sementara hujan belum kunjung reda. Jalanan juga pasti becek parah. Siapapun pasti memilih diam di rumah, daripada bertamu. 


Dua keluarga itu saling melempar pesan lewat suara yang lebih tepat disebut teriakan. Meski jarak dua rumah tak terlalu jauh, tapi suara hujan yang beradu dengan atap seng, begitu nyaring hingga meredam teriakan-teriakan dua keluarga ini. 


Karena obrolan tak benar-benar berhasil. Uwa Adam, masuk ke rumah lebih dulu. Kakak perempuanku yang ketiga memanggil dua saudaranya untuk masuk. Uwa juga akhirnya melambaikan tangan, lalu masuk. 


Tapi, di tengah Mamak yang mulai bergerak hendak masuk ke rumah. Bapak malah bersiap menyalakan petromax yang sejak tadi mati. 


"Apa beneran datang, tamunya?" ujar Mamak. Yang ditanya tak menjawab, tapi begitu petromax selesai dipompa. Sorot cahaya senter berukuran besar menerangi rumah. Suara hentakan kaki makin dekat. Tak lama cahaya makin terang, diikuti deru mobil bermesin diesel kian terdengar. 


Malam yang semula hening berhias suara hujan, kini menjadi riuh ramai. Belasan orang dengan pakaian seragam militer datang. Halaman rumah yang terbilang luas, kini menjadi lahan parkir beberapa kendaraan perintis. Uwa menyebut mobil tap. Aku mengasumsikan itu adalah Taft, kendaraan tangguh dari pabrikan Jepang, Toyota. Kendaraan itu memang yang paling cocok, dipakai menembus jalur kampungku yang belum beraspal. 


Karena keriuhan di depan rumahku. Uwa akhirnya juga keluar dan ikut menyapa. Kata Uwa, rombongan itu memperkenalkan diri sebagai Tim Tarsila. Yah, Uwa memang hanya sekolah SR dan tidak lulus. Ia mungkin agak kesulitan menirukan istilah yang sebenarnya. Tapi aku asumsikan yang dimaksud itu adalah Satgas Trisila. Semacam Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD). Bedanya, jika TMMD adalah program TNI Angkatan Darat, Trisila program TNI Angkatan Laut. 


Kata Uwa, Bapak terlihat begitu akrab meski benar-benar tak mengenal sebelumnya para tamu itu. Bahkan, Uwa sempat bertanya kepada salah satu prajurit yang datang, apakah sudah memberi tahu Bapakku akan datang, dijawab belum. 


Mereka mengaku hendak menuju ke Desa Mbaulak (ini aku menirukan ucapan Uwa, nama asli desanya Lebahu Ulaq. Salah satu desa di Kecamatan Sebulu). Setelah berjalan sekian lama, mereka lelah dan perlu tempat untuk istirahat. Dan entah kenapa, mereka memilih mendatangi rumah kami. Seperti sebuah kebetulan, Bapak sudah meminta untuk menyediakan makanan. Maka disajikanlah makanan itu kepada para tamu yang datang. Dan Uwa bilang. "Hih, aku merinding kalau ingat ini. Itu aku melongok jam. Itu persis jam 12. Tepat seperti omongan Bapakmu," kata Uwa yang sudah menceritakan ini berulangkali sampai aku hafal. 


Dari cerita ini, rasanya walaupun aku merasa bodoh kalau main percaya saja dengan larangan Bapak untuk tidak bepergian jauh di hari Sabtu pertama bulan Syawal, jadi menimbang ulang. Hasilnya, ya aku ikuti saja. 


Ketiga, Rebo Wekasan. Untuk yang satu ini, tak banyak yang bisa ku ingat. Tapi Bapak sering mengingatkan bahwa ada satu hari, di mana dipercaya banyak malapetaka diturunkan ke dunia. Tadi malam, aku sembari mengingat-ingat bahwa besoknya adalah 13 September 2023. Ini adalah hari penting. Hari itu, adalah hari di mana Istriku lahir, 29 tahun yang lalu. Aku memang tak terbiasa merayakan hari lahir. Tapi, semenjak diberi saran oleh Kakak tertuaku untuk berpuasa di hari lahir Vaga, demi mendoakan kelembutan hatinya, aku jadi kepikiran. Gimana kalau aku juga berpuasa di hari lahir Istriku. Toh ini hari Rabu. Sebelumnya, aku berpuasa di hari Senin. Meski mundur sehari, dari tanggal lahir Vaga. Dan, ya. Itu adalah kali pertama dalam hidup, aku berhasil menyelesaikan puasa Sunnah. 


Jadi, ini seperti puasa Daud saja. Senin dijeda Selasa, lalu Rabu aku kembali berpuasa.


Sebelum benar-benar tidur, semalam aku sempat mengecek kalender di gawai. 13 September 2023 itu bertepatan dengan hari Rabu. 20 Safar 1445. Astaga, Rebo Wekasan. 

Aku jadi ingat perkataan Bapak dulu. Ini adalah hari di mana diturunkannya ratusan ribu bala atau malapetaka. Sayang sekali, andai Bapak masih ada. Aku pasti minta penjelasan lebih jelas tentang hal ini. Tapi sayang, Bapak tidur sejak 2014 dan malah ga bangun-bangun sampai sekarang. 


Tapi tenang, aku sudah mengumpulkan beberapa rangkuman dari kitab dan jurnal tentang Rebo Wekasan. Bisa dibaca di tautan ini - >> https://bit.ly/Rebo-wekasan


Setelah mengingat itu, aku jadi berpikir bagaimana bisa manusia meyakini ada hari buruk di mana datang ratusan ribu malapetaka? 


Secara konkret, aku ngubek-ngubek internet juga tak menemukan bukti adanya catatan yang menunjukkan bahwa di hari itu, terjadi hal buruk sepanjang sejarah. 


Nyatanya, ada banyak sekali yang membahas ini dalam jurnal-jurnal akademis. Bahkan, tak sedikit Ulama ikut memberi komentar. Rata-rata, kesimpulan akhir dari kajian atau pembahasan itu bermuara pada larangan untuk memercayai, atau melakukan ibadah-ibadah khusus yang diniatkan untuk Rebo Wekasan. 


Bahkan, salah satu Imam Masjidil Haram Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali Qudus dalam Kitab Kanzun Najah Was Surur halaman 33 menulis: “Syeikh Zainuddin murid Imam Ibnu Hajar Al-Makki berkata dalam kitab “Irsyadul Ibad”, demikian juga para ulama mazhab lain, mengatakan: Termasuk bid’ah tercela yang pelakunya dianggap berdosa dan penguasa wajib melarang pelakunya, yakni orang yang melakukan salat khusus untuk Rebo Wekasan. 


Dalam catatan Hadits Sahih Buchori Muslim, 

Rasulullah SAW pernah menyinggung tentang bulan Ṣafar ini. 

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada mitos, tidak ada prasangka buruk, tidak 

ada (keramat) bulan Ṣafar," (Dikutip dari Buku Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Cairo: Dār al-Rayyān, 2001) halaman 249). 


Tentu saja, ketimbang ucapan para Sufi yang harus dimaknani mendalam, yang aku belum tentu paham. Lebih mudah untuk aku langsung memetik hikmah hadits Rasulullah yang sudah gamblang. Soal ucapan Bapak yang belum rinci penjelasannya itu, akan kupakai sekadar sebagai alat kewaspadaan. 


Ini juga berlaku bagi angka 13 yang mengikuti hari Rabu di pekan kedua September ini. Dalam budaya pop, angka 13 sudah lekat dengan stigma horor. 

Muasalnya, kalau ditelusuri merujuk pada objektifikasi cerita-cerita dari Bible secara sepihak. Tamu terakhir, atau ke-13 pada jamuan agung oleh Jesus adalah Yudas. Belakangan, Yudas diceritakan sebagai penghianat. 


Di Amerika Serikat, secara tak terbendung budaya pop memengaruhi kehidupan nyata dan mengutuk satu hari yang dianggap penuh kesialan dengan nama Friday the13rd.


Sampai-sampai, ada jenis gangguan kejiwaan khusus bagi mereka yang teramat takut pada angka 13, yaitu triskaidekaphobia. 


Tapi sekali lagi. Tak ada sumber pasti yang mengatakan kebenaran atau otentikasi cerita-cerita ini. Untuk itu, rasanya terlalu membuang energi jika menggunakan ini sebagai sesuatu yang harus kupercayai. 


Entah itu Rebo Wekasan, atau Friday the13rd, hanya akan berguna jika kita benar-benar waspada. 


Di luar itu, aku berdoa mudah-mudahan puasa hari ini berhasil, dan menjauhkan kami sekeluarga, juga keluarga kita semua dari malapetaka apapun. Aku ini gampang lapar. Jadi doakan aku kuat sampai magrib, lantaran ini demikian istimewanya, karena puasa ini aku dedikasikan untuk istriku. Tepat di hari lahirnya. 


Samarinda, Rabu 13 September 2023

Rusdianto


Tulisan ini diunggah ulang, dari unggahan di Facebook pribadi saya.