Endikup Sejatinya Bukan Album Musik, Tapi Kenangan, Duka, dan Mantra Abadi Gusti Irwan Wibowo -->

Header Menu

Iklan Mas Vaga 1

Advertisement

Endikup Sejatinya Bukan Album Musik, Tapi Kenangan, Duka, dan Mantra Abadi Gusti Irwan Wibowo

Rusdi Al Irsyad
Minggu, 06 Juli 2025

Dok Kedubes Bekasi Record
Sejak diumumkan bahwa album Endikup bakal tetap dirilis meskipun Gusti sudah pergi, saya termasuk orang yang sangat menantikannya. Walaupun beberapa lagu di dalamnya sudah lebih dulu akrab di telinga, seperti Diculik Cinta dan Icik-icik Bum Bum, tetap saja rasanya berbeda ketika tahu semuanya bakal dirangkai dalam satu album penuh.

Tanggal rilis resminya adalah hari ini, Minggu 6 Juli 2025. Tapi ya begitulah hidup. Saya berniat dengar tepat pukul 01.00 dini hari—eh, pukul 02.00 ding karena saya di Samarinda—malah ketiduran.

Dari sembilan lagu yang ada di Endikup, Diculik Cinta jelas jadi lagu paling punya nilai. Apaalagi dengarnya setelah Gusti tiada, rasanya hampa. Ada kekosongan yang nggak bisa dijelaskan. Lagu ini punya memori besar buat saya. Saat pertama kali dirilis Juli 2024, saya nggak sengaja dengar dan langsung menyebarkan kesenangannya ke semua orang di rumah. Svarga (Vaga), anak saya yang sudah ‘pulang’ duluan Februari lalu, sangat suka lagu ini. Dia bahkan hafal. Mungkin kami memang termasuk golongan kecil yang sudah lebih dulu menikmati karya Gusti sebelum semua orang ramai-ramai memainkannya di story.


Sejak Februari 2025, saya bahkan sempat nggak kuat lagi dengar lagu-lagu Gusti. Rasanya terlalu dekat. Sampai akhirnya Gusti sendiri juga dipanggil Tuhan. Saat itu, rasanya seluruh Indonesia ikut berduka. Semua orang tiba-tiba memutar ulang lagu-lagunya. Reels, story, TikTok, YouTube Shorts—semua dibanjiri potongan lagu Gusti. Seorang kawan yang juga jurnalis musik pernah bilang, “mungkin Gusti dan Vaga sedang bernyanyi bersama di surga sekarang.” Dia mengirim pesan itu tepat di hari Gusti wafat. Saya diam lama setelah baca kalimat itu.


Dan pagi tadi, pukul 06.00 WITA, cahaya kuning matahari masuk lewat jendela ruang tamu. Saya duduk di sofa warna ungu, lalu memutar semua track di Endikup lewat YouTube Music.

Ada perasaan haru, geli, sekaligus bahagia. Track pertama adalah Hari yang Mantap. Liriknya jenaka tapi bernas. Pilihan diksinya cerdas, dan seperti biasa, terasa ada sesuatu yang tersembunyi. Chemistry antara Gusti dan Nehru Rindra di lagu ini sangat terasa. Seperti yang biasa kita nikmati di podcast mereka. Nehru juga dapat porsi cukup buat ngerap, dan jujur saja, durasi 3 menit 50 detik terasa terlalu singkat.


Track kedua We Always Together, menghadirkan mas Hizmi si komedian cilik. Musiknya khas Endikup—dengan sentuhan suling dan gendang yang kuat. Rasanya seperti sedang disedot masuk ke dunia Orkes Pensil Alis lewat saluran Kipas Angin Kesedot Sampah. Hifzdi Khoir memang tahu cara membentuk ruang dalam lagu. Di ujung lagu, ada orasi personal dari seorang Kepala Keluarga Pribadi. Menyebutkan nama istri dan anaknya. Terlalu personal. Terlalu menyentuh. Terlalu aneh Mas…..


Lanjut ke Icik-icik Bum-Bum. Ini lagu paling menyenangkan yang pernah saya dengar tahun ini. Tidak berlebihan rasanya, kalau lagu ini adalah tawaran paling segar untuk musik yang layak dikonsumsi anak-anak. Liriknya yang komedik, nada yang easy listening, dan pengulangan kata bisa jadi bahan untuk permainan pemecah es, alias ice breaking. Sangat cocok untuk segera dihapalkan oleh guru PAUD dan TK di seluruh Nusantara. Mungkin Om Timur Priyono memang menyiapkan lagu ini untuk anaknya. Tanpa perlu bicara soal dinasti, Bunga Nafisa yang adalah adiknya Gusti, cocok belaka secara look, audio maupun kepribadian membawakan lagu ini bersama Gusti.


Track keempat Bagaimana berubah total. Suasana jazzy dan bossa nova langsung mengubah mood. Ini anomali. Tapi seperti kata Gusti di salah satu podcast: “Endikup itu kadang dangdut, kadang jazz, kadang keroncong, atau orkestra.” Lagu ini menggaet Danilla, dan hasilnya magis. Suara Danilla yang lemas dan indie banget, menyanyikan lirik yang banal tapi reflektif, seperti mantra. Saya kira lagu ini cocok banget jadi latar video Bojoku Masak part berikutnya.

Lalu masuk ke Diculik Cinta, yang sudah saya bahas di awal.

Track keenam Ngambek terasa seperti drama musikal mini. Liriknya teatrikal, seperti dialog. Cocok untuk diputar saat nyetir jam 3 pagi di Tol Balikpapan–Samarinda. Kamu bisa mengira ini duet, padahal semua suara ya Gusti sendiri. Gila sih teknisnya.


Track ketujuh; Lanjutkan Perjuangan Kita menurut saya adalah napas asli dari album ini. Liriknya dalam, komedinya tetap muncul, dan bagian reff dengan orkestra serta flute yang jadi lead betul-betul membius. Ketika lirik “lanjutkan perjuangan kita” diulang, sebagai orang yang lahir dan besar di wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara, saya langsung terseret. Rasanya seperti dengar lagu pengiring tari Jepen. Bahkan sempat terlintas: ini semacam Buah Bolok versi spiritual.

Track kedelapan Hilang Arah jadi titik pertemuan dangdut dan indie. Bilal Indrajaya yang jadi kolaborator di sini membuktikan bahwa nada-nada Melayu bisa diolah dengan kesadaran estetik tinggi. Lagu ini terasa kaya dari intro, dan sejujurnya, akan menarik kalau suatu hari dinyanyikan bareng Ridho Rhoma.


Terakhir, Menunggu Ujung menutup album ini dengan tenang. Suasananya platonis, lembut, dan sendu. Mengingatkan saya pada Benalu dan Cantikmu Bijaksana. Rasanya seperti jalan pulang di malam yang dingin, ditemani lampu jalan yang pucat dan sepi.

Secara keseluruhan, Endikup bukan sekadar album. Ia adalah pusaka. Sebuah ruang tempat kenangan, kehilangan, dan kebahagiaan bisa duduk berdampingan. Musiknya paduan yang kaya dan di situlah letak kekuatannya. Gusti membiarkan kejujuran mengalir tanpa filter, tanpa kemasan yang terlalu rapi.


Eduard Hanslick pernah menyebut bahwa musik yang baik adalah musik yang “membangkitkan imajinasi tanpa harus bergantung pada narasi lisan.” Dan Endikup persis seperti itu—ia bukan cerita, tetapi perasaan yang lengkap.

Kierkegaard pernah bilang, “Kehidupan hanya bisa dipahami jika dilihat ke belakang, tapi harus dijalani ke depan.” Endikup membuat saya memahami masa lalu—tentang Svarga, tentang Gusti, tentang kehilangan. Tapi ia juga mendorong saya untuk tetap melanjutkan hari, dengan ringan dan penuh tawa.

Ini bukan sekadar rilisan pasca-kepergian. Ini adalah warisan. Dan Gusti, lewat Endikup, sudah selesai dengan caranya sendiri: lucu, jujur, dan tak terlupakan.

 

Samarinda, Minggu, 7 Juli 2025

Rusdianto