Memahami Situasi Massa dan Kemarahan Massal yang Berujung Main Hakim Sendiri -->

Header Menu

Iklan Mas Vaga 1

Advertisement

Memahami Situasi Massa dan Kemarahan Massal yang Berujung Main Hakim Sendiri

Rusdi Al Irsyad
Senin, 27 Juli 2026

Ilustrasi sketsa anak perempuan dan anaknya. 

Berita meninggalnya seorang bapak yang (diduga) mencuri seekor ayam, lalu diamuk massa hingga tak bernyawa, membangunkan belaka simpati publik. Potongan video anak perempuan menangis memanggil bapaknya, sukses menyayat hati siapa saja, tak terkecuali saya. Sebagai bapak yang ditinggal 'pulang' duluan oleh anak yang kebetulan sepantaran bocah di video itu, suara tangisan bocah seusia itu adalah satu dari beberapa hal yang saya hindari. Bikin nelangsa. 


Tapi, empati yang muncul ini, buru-buru diberi batas-batas yang bikin kesel. Narasi bahwa si bapak diduga melakukan perbuatan terlarang yaitu mencuri, harus suka tak suka disisihkan, supaya bisa melihat persoalan secara jejeg.

Terlepas dari apakah si bapak benar telah mencuri atau tidak. Sebagai mahluk berakal, seharusnya kita bisa menggunakan mesin alami paling canggih di batok kepala kita itu, untuk berpikir. Paling tidak, memberi pertimbangan yang memunculkan batas yang jelas, yang jadi pembeda kita manusia dengan binatang. 


Kejadian ini bukan pertama kali. Ada puluhan atau mungkin ratusan insiden serupa, yang kalau diingat-ingat, selalu berhasil mempertanyakan kemana perginya rasa kemanusiaan kita? 


Benarkah, kemarahan se-tidak bisa itu untuk dikendalikan? Jawabannya mungkin iya, tapi sebenarnya selalu ada celah untuk kita bisa meredam. Sebagai buktinya, saya pakai peristiwa beberapa tahun lalu ini. 


Itu adalah Kamis malam, jelang Jumat dini hari, di pekan kedua bulan November 2023. Saya sudah hampir lelap. Tiba-tiba suara ketukan pintu keroyokan berdesakan masuk ke telinga. Disusul suara-suara beberapa laki-laki memanggil-manggil nama saya. Suara berikutnya yang terdengar jelas adalah suara perempuan. 

"Baa, itu ada orang ketok-ketok, nyariin kamu." Itu adalah suara yang akhirnya bikin saya bangun dan sadar. Perempuan itu istri saya. Dia sudah berdiri di depan saya terbaring di ruang tengah. Dengan mata setengah terpejam, saya bangun dan meraih gagang pintu. 


"Om, maaf lah mengganggu. Itu ada maling ketangkapan sama warga. Sekarang diikat di rumah Pak RT. Tadi Pak RT bilang, suruh panggilkan Pian ke sana," cecar lelaki beraksen Banjar yang berdiri di teras rumah kami. Pian bukan nama saya, itu adalah panggilan sopan dalam bahasa Banjar, yang artinya; anda. 

Lelaki itu adalah Om Burhan. Tetangga komplek kami. 

Dengan masih setengah sadar, saya manut saja dibonceng Om Burhan menuju rumah Pak RT, yang jaraknya sekitar 5 menit. Masih ingat sekali, saya pakai jaket bomber pemberian dari acara gathering media yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Timur, yang warnanya sudah pudar, dan celana pendek kolor berwarna putih. Sungguh penampilan yang sangat tidak meyakinkan. 


Di halaman rumah Pak RT, puluhan orang sudah berkerumun. Sesekali suara teriakan terdengar, ditimpali ucapan-ucapan hardik. Seorang pria berbadan kurus, dengan tato di beberapa bagian tubuh, terikat di sudut depan rumah bercat merah putih. Saat saya datang, dua atau tiga pemuda setempat bergantian melayangkan pukulan ke wajah, perut bahkan kepala. Dilanjutkan tendangan ke arah pelipis dan mulut laki-laki yang terikat itu. 


Saat saya sudah turun dari sepeda motor Om Burhan. Yang pertama kali saya lakukan adalah, berteriak agar orang-orang menyingkir dan memberi saya ruang. Pak RT duduk di kursi, kebetulan saat itu, beliau sedang menjalani pemulihan kakinya yang patah tulang. Tak banyak yang bisa dia lakukan. Memanggil saya, barangkali adalah salah satu upaya yang paling benar yang harus dilakukannyan. Mungkeeen. Wkwkw. 


Kapasitas saya, adalah sebagai wartawan. Pak RT mungkin beranggapan, saya akan lebih wise untuk menangani hal-hil beginian. Beruntunglah, barangkali Pak RT sudah memberi informasi bahwa akan datang seorang wartawan yang akan membantu menyelesaikan ini. Yang mereka tidak tahu adalah, saya ini memang benar wartawan. Saya sudah ada di industri media sejak 2012. Tapiii, saya ini desk ekonomi dan politik. Yaah, walaupun tidak sedikit pengalaman pegang halaman Kriminal, juga liputan-liputan kriminil. 


Tapi syukurnya, warga yang berkerumun menjauh dan membiarkan saya mengintrogasi langsung si maling. Dari informasi awal yang disampaikan Pak RT, pria berambut gondrong itu 'beraksi' menggasak kotak amal di masjid kami. Seminggu sebelumnya, seusai salat subuh, Pak RT bilang bahwa kotak amal masjid dirusak, dan isinya raib. Karena saya jadi salah satu orang yang paling sering ada di masjid, berhubung dipercaya jadi imam salat rawatib, saya jujur agak dekdekan. Bagaimana tidak, saya juga bisa jadi suspect, kan? 


Untuk itu, saya sarankan agar takmir membeli kamera pengawas, dan memasang CCTV itu tepat di atas penempatan kotak amal. Dan benar saja, beberapa hari kemudian kamera berhasil menangkap siapa yang selama ini mengambil duit amal di masjid kami. Yang jeniusnya, setelah wajahnya terekam CCTV, alih-alih berhenti, si kucluk ini malah datang lagi dan beraksi seolah mengabaikan fungsi benda perekam itu, dan berujung dicokok warga.


"Jadi sudah berapa kali?" saya mengajukan pertanyaan pertama. Hening, laki-laki yang mulutnya sudah berlumuran darah ini membisu. Sedetik kemudian, sebuah tendangan meluncur ke wajahnya, hingga saya juga ikutan kaget. 

"Om, sudah dulu lah. Sebentar saya tanya dia dulu," kata saya mencoba menenangkan.


Saya ulang pertanyaan itu, dan baru pada kali ketiga dia menjawab. "Su-sudah 2 kali," ucapnya tanpa ekspresi.


"Siapa nama Pian?" saya bertanya lagi. Seperti sebelumnya, lelaki ini tak menjawab. Itu semakin memicu amarah warga. Suasana makin sesak. Mungkin seratusan orang berjejalan di teras rumah Pak RT kala itu. Warga yang marah, makin merangsek dan mencoba memukul, menendang, bahkan meludahi berkali-kali. 

"Om Burhan, cek motornya, atau dompetnya. Cari KTP atau STNK-nya, biar kita tahu siapa namanya," kata saya meminta bantuan Om Burhan. Beberapa pemuda mengekor di belakang Om Burhan dan sigap membolak-balik tas dan sepeda motor si maling. 


Setelah beberapa waktu. Tidak ada hasil. Ada saja warga yang menuntun sepeda motor yang,  untuk seorang pencuri, motor dia adalah CBR. Saya aja masih pakai Scoopy tahun 2015 buset. Seorang bapak yang entah siapa, tetiba membanting motor milik maling itu dan teriak. "Kita bakar aja motor sama malingnya sekalian," Deg. Duh, saya tetiba panik. Mana warga yang lain sudah sepakat-sepakat saja, bahkan mulai bergerak mencari korek. 

Tapi, yang saya salut. Si maling, sama sekali tidak tampak terindimidasi atau takut. Bahkan, satu kata aduh saja, tidak keluar dari mulutnya. Padahal, wajahnya sudah dipenuhi darah. Saya juga baru sadar, tangannya bengkak dan membiru, karena diikat sangat kencang oleh warga.

Situasi itu, saya sikapi dengan berusaha tenang. Saya mencoba memakai kemarahan warga untuk mengintervensi si maling. 


"Om, kalau Pian gak mau jawab pertanyaan saya, saya akan biarkan warga membakar Pian. Saya gak akan halangi lagi. Terserah Pian aja lagi. Tapi kalau Pian nuruti omongan saya, saya cuma perlu nama Pian, abis itu saya serahkan Pian ke polisi. Kada (tidak) harus sampai mati di sini Pian," saya menggunakan bahasa yang sesopan mungkin. 


Sambil saya membujuk si maling, ternyata warga sudah berhasil membalik dan menghancurkan sepeda motor CBR itu. Api kecil sudah menyala. Ada satu pemuda setempat yang sudah menyeret tangan si maling, untuk didorong ke api. 


Aduh Gusti. Saya terpaksa harus bangun dan menahan mereka. Dengan sedikit adu argumen, akhirnya karena dibacking Pak RT, akhirnya pemuda itu berhenti. Saya menjelaskan, bahwa kalau sampai maling ini diamuk, atau bahkan dibakar sampai tewas. Bukan tidak mungkin, ada komplotan atau keluarganya yang menuntut balas. Dan ini adalah sesuatu yang bakal sangat menguras energi bahkan mengancam keselamatan warga. 


Selain itu, andai tidak ada yang menuntut balas. Kematian seseorang dengan kekerasan tetap harus dipertanggungjawabkan secara hukum. 


"Apakah bapak-bapak nanti mau dipenjara karena bunuh orang? Atau minimal diperiksa polisi berhari-hari, mau? Atau kalau bapak sekalian kabur, ini semua yang nanggung jadinya Pak RT, karena ini di rumah Pak RT. Bapak-bapak tega?," saya menjelaskan dengan sangat hati-hati. 


Pak RT dengan terpincang-pincang bergerak mematikan api, dan warga perlahan menjauh dari kerumunan. Saya meminta Pak Hansip yang sudah datang untuk mengendurkan ikatan tangan si maling. Lalu saya meminta beberapa anak muda yang sering ikut salat berjamaah untuk mengumpulkan isi tas yang berserakan. Saya minta untuk hitung berapa uang yang dia curi. Total Rp600 sekian ribu. Saya lupa persisnya. 


Saya bilang lagi ke warga. "Bapak semua boleh marah, wajar marah Pak. Apalagi ini uang masjid. Tapi, kalau sampai membunuh orang, apa bedanya kita sama dia Pak? Bahkan kita lebih buruk. Bayangkan gara-gara uang Rp600 ribu, nyawa orang hilang Pak. Lagian, kalaupun uang yang hilang 1 juta, 2 juta. Uang masjid, tidak akan berdampak apa-apa ke bapak-bapak semua ini," kali ini, saya agak emosional.


Beberapa orang tampak mengamini ucapan saya, walaupun tidak sedikit juga yang terlibat kesal karena batal dapat sandsack hidup gratis. 

Setelah itu, saya introgasi lagi si maling, dengan asumsi kalau dia mencuri untuk kebutuhan mendesak, saya tidak akan laporkan ke polisi. Tapi sayangnya, saya mungkin terlalu berbaik sangka wakakakak. Dia mengaku sudah mencuri 5 kali. Uangnya, dipakai untuk membeli komponen variasi untuk sepeda motornya. Ah siaaaalaan. 


Akhirnya, saya menelpon Bang Ari Fadly, yang kala itu menjabat Kapolresta Samarinda. Luar biasa, karena itu pukul 03.00 dini hari. Beliau mengarahkan agar menunggu sementara tim patroli akan segera datang dan menjemput si maling. 


Berselang 30 menit, petugas datang. Saya 'terpaksa' ikut mengantar ke Polsek terdekat, ditemani beberapa warga dan Om Burhan. Di tengah jalan, salah satu petugas bilang kok malingnya masih segar. Wkwkwk. 


"Tadi langsung lapor ke Bapak, ya Bang? Kami jadi langsung meluncur," kata polisi muda yang menyetir mobil Avanza hitam itu. 

Bapak yang dimaksud sepertinya merujuk ke Kapolres. Saya tidak menjawab, hanya isyarat anggukan, karena sudah sangat mengantuk. 

Ketika mobil sudah lumayan jauh dari perumahan, si polisi muda bertanya lagi. 

"Mau dikasi-kasi dulu kah Bang? Biar kapok dia ni," katanya. Saya tertawa lalu menengok ke kursi belakang,  di mana si maling duduk meringkuk. 

"Gausah lah bro, kesian dia sudah dihajar warga tadi." 

Keesokan harinya, kami dipanggil oleh petugas yang menangani. Uang masjid yang hilang dikembalikan, meskipun Polisi bilang bahwa kerugian di bawah Rp2,5 juta tidak bisa dilanjutkan ke proses hukum. Akhirnya kami diminta membuat surat kesepakatan dengan si maling, supaya dia tidak mengulangi lagi perbuatannya, dan si maling pun dibebaskan. 

Beberapa warga kecewa dengan saya, karena menganggap andai malam itu saya tak menghalangi pasti si maling sudah mendapatkan pelajaran. Pelajaran kan engga musti sampai mati kan ya? Yah, mungkin mereka benar. 

Saya sangat percaya mata balas mata. Kalau dia menyakiti sampai mati, ayo kita balas juga sampai mati. Seperti orang yang korupsi sampai bikin jutaan orang kehilangan kesempatan untuk sekolah, kesehatan layanan dasar, haji bahkan sampai bikin orang mati, itu sah dan layak dihukum sampai mati. Dengan atau tanpa proses hukum. Begal, rampok, atau pemerkosa, pembully termasuk di dalamnya. 


Orang-orang yang kadang suka ikut mukul, nendang atau memberi penghakiman di kekacauan publik itu biasanya adalah orang-orang yang punya beban berat yang selama ini tidak punya cukup tempat untuk mengekspresikan. Makanya, ketika ada maling tertangkap, ada selebgram blunder, mereka akan menjadikan itu sebagai sandsack gratis. Sayangnya, kadang kita tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi, atau dampak apa yang bakal bisa berlaku atas tindakan yang dilakukan. 


Untuk orang yang mukul atau nendang, meludah atau menghujat. Barangkali itu adalah kali pertama, cuma satu kali. Tapi untuk yang dihajar, untuk yang dihujat massal. Itu adalah pukulan, tendangan atau hujatan yang kesekian kalinya. Yang pasti, akan berdampak serius. Bisa trauma, cacat, atau yang terburuk ya meninggal dunia. Padahal yang mukul cuma merasa mukul sekali. Padahal yang hujat cuma merasa komen sekali. 

Tidak bermaksud membela pencuri. Mau dari sisi manapun itu adalah perbuatan keji. Saya juga pasti ngamuk dan marah kalau ada di posisi yang kehilangan. 

Jadi, mari kita ambil pelajaran dari peristiwa ini. 


Rusdianto 

Samarinda, Senin 27 Juli 2026