Cerita Zaki: Bocah Pulau Maratua yang Bermimpi jadi Pesepakbola Dunia, dan Lilin Penyelamat Bernama BAKTI Komdigi -->

Header Menu

Iklan Mas Vaga 1

Advertisement

Cerita Zaki: Bocah Pulau Maratua yang Bermimpi jadi Pesepakbola Dunia, dan Lilin Penyelamat Bernama BAKTI Komdigi

Rusdi Al Irsyad
Sabtu, 13 Juni 2026

Muhammad Zaki Al Hafiz, murid kelas 5 SDN 01 Payung-Payung saat bermain sepak bola bersama kawan-kawannya. (Dokumentasi Rusdianto)

Itu adalah pagi menjelang siang yang cukup hangat, ketika gerimis tipis turun merata membasahi halaman SD Negeri 001 Payung-Payung di Pulau Maratua. Di bawah langit yang agak muram itu, Muhammad Zaki Al Hafiz bersama kawan-kawan sebayanya riuh menggiring bola sepak yang tampak sekali seringnya ia membentur apa saja di halaman yang dibatasi dinding tembok yang catnya mengelupas itu. 


Kaki-kaki kecil mereka memijak hamparan semen berlubang yang menggenangkan air sisa hujan. Sesekali ada yang terpeleset akibat permukaan lapangan yang perlahan berubah menjadi lumpur berpasir. Di seberang pagar sekolah sederhana itu, lautan biru jernih membentang tanpa batas menyapu pasir putih yang bersih. Pemandangan eksotis yang menyihir ribuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia itu hanyalah lanskap sehari-hari bagi Zaki. 



Bocah kelas lima ini menyimpan angan-angan yang jauh melampaui batas horizon pulau terluarnya. Ia berhasrat menggocek bola layaknya Neymar di panggung dunia.Gawai serta aplikasi berbagi video yang bagi kebanyakan orang tua di luar sana adalah ancaman tumbuh kembang, menjelma inspirasi bocah itu menemukan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan sebagai cita-cita. 


Mungkin belum ada satupun pesohor pengolah kulit bundar yang mengajari bocah berkulit sawo matang itu bagaimana cara menggocek bola, tetapi beragam video pendek di platform TikTok, cukup belaka jadi 'guru' bagi Zaki. Sayangnya, antusiasme anak-anak pesisir ini terus-menerus berbenturan keras dengan realitas teknologi yang demikian timpang. 

Layar ponselnya amat sering menampilkan lingkaran pemuatan data yang berputar tanpa henti. Sekolah tempatnya berdiri saat ini, sejatinya tercatat sebagai salah satu titik layanan internet dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dengan tingkat pemanfaatan yang sangat masif di Kabupaten Berau. Data mencatat ada lebih dari 500 pengguna rata-rata yang mengakses jaringan di SD Negeri 001 Payung-Payung ini. 


Angka tersebut menjadi penanda tak terbantahkan mengenai besarnya kehausan warga pulau terhadap konektivitas pendidikan dan dunia luar.  


Kapasitas ruang udara telekomunikasi sering kali tersedot habis secara drastis saat musim liburan tiba. Maratua menyimpan ironi tajam yang membelenggu warganya sendiri di tengah predikat gemilangnya sebagai Desa Wisata Bahari. Lonjakan pelancong yang datang ke pulau ini tak bisa dibilang sedikit. Bahkan, meroket tajam dari 127.396 jiwa menjadi 557.214 jiwa. Wisatawan mancanegara yang menjejakkan kaki lewat Bandara Maratua turut melesat dari 220 orang pada tahun 2020 menjadi 4.294 orang pada tahun 2024. Geliat ekonomi yang meledak ini turut mendorong pertumbuhan fasilitas akomodasi di Maratua hingga menembus 93 unit, menundukkan jumlah penginapan di ibu kota kabupaten Tanjung Redeb yang hanya menyentuh angka 52 unit. Tumpahnya para pendatang ini membuat menara seluler komersial tunggal berulang kali tumbang tak berdaya menahan lonjakan pengguna. 



Warga desa seketika terisolasi secara digital di tengah kampung halaman mereka sendiri. Segala jerih payah aparat kampung untuk menyiapkan lahan pembangunan menara swasta baru berujung buntu.  "Pertama kali kami mengajukan lahan dan permohonan menara itu sejak sepuluh tahun yang lalu. Sampai hari ini, belum ada sama sekali realisasinya," ucap Sekretaris Kampung Payung-Payung Rino, saat bercerita kepada rombongan awak media di halaman kantor Kepala Kampung Payung-Payung.


Belum tersedianya  jaringan telekomunikasi di beberapa titik pada level yang lebih jauh, membawa rentetan musibah yang mengancam nyawa. Ketiadaan sinyal di perairan antara Pulau Derawan dan Pulau Sangalaki, pernah menggoreskan tragedi kelam. Sekretaris Camat Maratua, Armin Mashuri masih merekam detail mengerikan ketika seorang nelayan kehabisan bahan bakar di tengah laut dan gagal memanggil bantuan darurat hingga berujung pada insiden fatal. 



Armin memandang kondisi ini sebagai wujud pembangunan yang terasa sangat timpang dan sarat formalitas."Sinyal bagus itu cuma kalau ada pejabat datang. Pejabat pulang, sinyalnya ikut pulang," tutur Armin. Walau demikian, sedianya negara tidak diam-diam saja. Negara  hadir menambal celah kritis ini melalui penyediaan titik-titik akses internet BAKTI. Secara keseluruhan, terdapat setidaknya 604 lokasi layanan internet gratis yang tersebar di Provinsi Kalimantan Timur, dan 70 titik di antaranya ditanamkan khusus di wilayah Kabupaten Berau. Fasilitas ini menjadi urat nadi penyelamat administrasi desa dan kelancaran sistem pendidikan sekolah. Pos TNI Angkatan Laut Maratua sebagai pos terluar turut mengandalkan jaringan ini untuk menopang kebutuhan operasional dan komunikasi pertahanan mereka. 

Fakta lapangan ini mengukuhkan status Pulau Maratua sebagai titik persilangan kedaulatan negara dan kesejahteraan ekonomi di perbatasan Republik Indonesia. Kendati demikian, Armin memberikan perumpamaan yang sangat merakyat untuk menggambarkan hakikat fasilitas pertolongan pertama tersebut.  


"Ibaratnya fasilitas ini seperti lilin. Masa kita ada lampu lalu kita nyalakan lilin, enggak kan? Kalau Telkomsel mati atau ada masalah, barulah orang lari ke sini (BAKTI) untuk menolong urusan darurat," tukas pria yang sudah 11 tahun mengabdi di Kecamatan Maratua ini. 


Persoalan memanas ketika sebatang lilin itu dipaksa menerangi seluruh penjuru pesisir yang gelap gulita. Saat jaringan komersial lumpuh total pada malam hari, ratusan pencari sinyal menyerbu halaman balai desa, atau kantor camat secara bersamaan. Anak-anak yang bermain game online bersinggungan dengan orang dewasa yang melakukan siaran langsung media sosial pada satu titik jaringan yang sama. 


Plt Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi Darien Aldiano, membedah anatomi persoalan ini sembari menyodorkan optimisme dari data lapangan. Di Kampung Bohesilian, menara pemancar rintisan mereka sebenarnya terbukti sangat andal melayani lebih dari 200 pengguna aktif dengan koneksi stabil nyaris tanpa gangguan setiap bulannya.  


"Layanan ini ibarat bantuan langsung tunai di sektor telekomunikasi untuk pemenuhan komunikasi paling dasar. Jika dipakai puluhan orang secara serentak untuk hiburan, sehebat apapun kapasitas awalnya pasti akan lumpuh. Namun, tingginya pemanfaatan ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Berau sudah sangat siap memanfaatkan dunia digital, sehingga kami berupaya menaikkan kapasitas pita jaringan di lokasi-lokasi dengan lalu lintas tinggi tersebut," bener Darien panjang lebar. 


Anggaran negara, kata Darien sudah dikucurkan untuk menjamin negara hadir mengurus kepentingan esensial masyarakat bawah di perbatasan. 


Direktur Utama BAKTI Komdigi Fadhilah Mathar menaruh perhatian yang amat serius pada pergeseran fungsi infrastruktur ini. Institusi yang dipimpinnya memiliki visi merawat kemandirian masyarakat agar pada titik tertentu mereka sanggup membeli layanan komersial secara berdaya saing.


"Peran kami menggratiskan itu agar layanan administrasi sekolah, kesehatan, atau pemerintahan desa bisa berjalan. Kalau kemudian fasilitas ini dipakai untuk menggulir halaman TikTok hingga mengganggu kecepatan pelayanan utama, itu tentu agak sulit," tegas wanita yang akrab disapa Indah tersebut.


Semua suara parau dari pulau eksotis ini mengkristal pada satu kesadaran absolut mengenai hak atas infrastruktur siber yang kuat. Kebutuhan hidup warga Maratua telah berevolusi menjauhi sekadar urusan berkirim pesan singkat zaman lampau. Warga dengan rela hati siap merogoh kocek dalam-dalam demi jaminan koneksi yang andal. Skema pengeroyokan masalah secara gotong royong lintas sektor menjadi jalan keluar paling mutlak. 


Korporasi telekomunikasi komersial wajib segera menanamkan investasi kabel serat optik yang terbukti memiliki daya tahan puluhan tahun demi melayani pulau yang tiada henti menyumbang devisa wisata ini. Sembari menunggu keadilan frekuensi itu terwujud secara paripurna, Zaki dan teman-temannya akan terus menyepak bola plastiknya di atas pelataran semen yang menggenangkan air hujan. Di sela-sela tarikan napasnya yang tersengal, bocah ini menyandarkan harapan polos tentang kesetaraan akses menuju dunia digital tanpa batas.


"Aku pengin internetnya lebih cepat biar belajarnya dan nonton Neymar nggak sering loading," ucap Zaki. 


Mimpi sekecil dan semurni itu memerlukan jalan lapang tak berujung untuk terus mekar. Anak-anak yang lahir dari rahim pulau perbatasan amat berhak memiliki cita-cita yang melambung tinggi menembus rapatnya karang pesisir. Mereka layak terbebas dari siksaan janji-janji perbaikan jaringan digital yang sekian lama berulang datang menyapa lalu seringnya ikut pulang bersama rombongan. 


Rusdianto

Sabtu, 13 Juni 2026